Merayakan Maulid Nabi Bid'ah kah?
Rasulullah Saw mengistimewakan hari diselamatkannya Nabi Musa as dari kejaran Fir'aun, dengan berpuasa pada tanggal 10 Muharram, hari di mana Nabi Musa diselamatkan.
Tentang keistimewaan hari lahir Nabi saw,
terdapat hadits shahih dari Abu Qatadah, seorang bertanya kepada Rasulullah saw:
"Bagaimana penjelasanmu tentang berpuasa di hari Senin?" Maka beliau saw menjawab: "Fiihi wulidtu wafiihi unzila alayya."
"Di hari itu aku dilahirkan dan di hari itu pula aku diturunkan wahyu Al Qur'an." (HR. Muslim, Abu Daud, dan Ahmad).
Mungkin anda bertanya, mengapa dalam perayaan maulid kita tidak berpuasa seperti yang dicontohkan oleh Rasul saw saja, tetapi malah makan-malam dan bergembira dengan membaca syair-syair pujian yang disertai alunan rebana dan lain-lain?
Jawabannya adalah, puasa merupakan salah satu cara terbaik untuk mengenang kelahiran Rasulullah saw. Dan puasa sendiri adalah ibadah murni yang akan mendapat pahala jika kita mengamalkannya secara ikhlas dan benar.
Tetapi yang menjadi tujuan dari puasa Rasulullah pada hari itu adalah untuk mengenang dan mensyukuri nikmat Allah yang telah diberikan kepada beliau saw.
Karena itu, tidak ada alasan untuk melarang manusia melakukan bentuk-bentuk peringatan kelahiran Nabi saw dengan cara lain, selama hal itu dibolehkan dalam agama dan tidak berbentuk maksiat.
Sedangkan yang terpenting dalam hal ini adalah niat dan tujuan dari perayaan itu, bukan medianya semata. Karena itu, kalau kita perhatikan maka akan kita temukan berbagai macam cara umat Islam dalam memperingati hari kelahiran Nabi saw sesuai dengan kondisi dan tradisi masing-masing.
Di antara mereka ada yang dengan cara menyantuni fakir miskin dan anak-anak yatim, berpuasa, melantukan syair-syair pujian kepada Nabi saw, dan bersedekah makanan kepada tetangga dan kerabatnya.
Di antara sekian cara ini, yang paling terkenal di Indonesia adalah mengadakan pembacaan kitab maulid dan pengajian dengan serangkaian acaranya. Inilah yang dilakukan sebagian umat Islam di seluruh pelosok dunia dari dahulu hingga sekarang.
Hal lain yang sering dipermasalahkan dan diungkit-ungkit adalah tentang lantunan syair pujian sebagai pelengkap acara maulid.
Seperti biasa, mereka mengatakan, itu adalah hal bid�ah yang wajib dihilangkan karena mengotori syariat Islam. Sebelum kita bahas lebih lanjut, marilah kita tengok sejarah para sahabat di masa Rasulullah saw masih hidup.
Kala itu, berita hijrahnya Rasulullah saw dari Mekkah ke Madinah telah tersebar luas. Para sahabat yang berada di Madinah tak kuasa menahan rasa rindu kepada Rasulullah saw.
Setiap hari mereka menanti Nabi saw di tapal batas kota Madinah, akhirnya, saat yang dinanti-nanti pun tiba.
Rasulullah saw bersama Abu Bakar ra memasuki kota madinah dengan selamat. Kegembiraan warga Madinah tak dapat dilukiskan dengan kata-kata, mereka menangis bahagia menyaksikan kekasih yang dirindukan telah berada di hadapan mata.
Dengan penuh cinta, wanita dan anak-anak pun menaati rebana dan melantunkan syair indah penuh makna yang abadi sepanjang masa. Dengan meriah mereka bersyair,
"Thala'al badru 'alainaa.. min tsaniy yatil wadaa'.. Wa jabasy syukru 'alainaa.. Maa da'aal lillahidaa'.."
(Telah terbit bulan purnama.. Menyinari kami dari Bukit Wada'.. Maka kita wajib bersyukur.. Karena tibanya sang da'i yang menyeru ke jalan Allah..).
Sepanjang hidupnya, Rasulullah saw tidak pernah melarang tabuhan rebana dan senandung syair yang dipersembahkan untuk menyambut kedatangannya itu.
Bahkan ketika Rasulullah saw tiba dari perang Tabuk, warga Madinah kembali menyambutnya dengan tabuhan rebana dan lantunan syair tersebut di atas. (Lihat Siratul Halabiyyah juz 3: 99, Zadul Ma'ad juz 1: 1297, Fathul Bari juz 8: 469).
Dalam hadist lain juga diriwayatkan, bahwa suatu ketika ada seorang bernama Ka�b bin Sughair bin Abi Salma, dia mencaci maki Rasulullah dengan mengatakan : Muhammad itu kalau malam hari berkumpul dengan para sahabatnya kemudian minum-minum arak dan setelah itu keluar ucapan-ucapan yang tidak karuan (Al Qur'an). Para sahabat Nabi marah setelah mendengar ada seorang yang telah berani mencaci maki dan memfitnah Rasulullah Saw, kemudian para sahabat menemui Rasulullah untuk memohon izin akan mencari orang yang telah mencaci maki Rasulullah. Sebelum para sahabat menemukannya, ka'b bin Sughair bin Abi Salma mendengar berita itu dan dia langsung ketakutan, kemudian dia menghampiri Rasulullah pada saat beliau sedang melaksanakan Shalat subuh sambil menutup mukanya dan berkata :
Wahai Muhammad, apakah kamu telah dicaci maki orang yang bernama ka'b bin Sughair dan apakah para sahabatmu sedang mencari orangnya ? Rasulullah saw menjawab "Benar". Bagaimana kalau dia datang kepadamu untuk minta maaf ? Rasulullah saw mengatakan "akan saya maafkan". Kemudian dia membuka tutup mukanya sambil mengatakan "sayalah ka'b bin Sughair orang yang yang telah mencaci maki kamu, silahkan akan kamu apakan. Rasulullah saw langsung mengatakan "Kamu saya maafkan.
Setelah dimaafkan oleh Rasulullah dia menunduk dengan meletakan kedua tanganya diatas paha Rasulullah Saw sambil melantunkan syair-syair yang isinya memuji-muji Rasulullah Saw, setelah ka�b bin Sughair bin Abi Salma selesai melantunkan Syair-syair pujian lalu Rasulullah Saw memberikan hadiah kepadanya berupa selimut lurik yang sedang beliau pakai.
Jadi, walau mungkin Rasulullah saw tidak pernah meminta / memerintah hal itu selama hidupnya, tetapi karena ketika beliau mengetahui hal itu tidak pernah melarangnya,
maka hukumnya menjadi Sunnah Taqririyah (Sunnah karena Rasulullah melihat atau mendengar sesuatu yang dikerjakan para sahabat atau orang lain, tetapi beliau tidak melarangnya).
Dengan demikian, maka jelaslah permasalahan seputar merayakan Maulid Nabi dengan melantunkan syair pujian untuk Baginda Nabi Muhammad saw yang sering kita dengar bahkan melakukannya adalah Sunnah.
Rasulullah Saw mengistimewakan hari diselamatkannya Nabi Musa as dari kejaran Fir'aun, dengan berpuasa pada tanggal 10 Muharram, hari di mana Nabi Musa diselamatkan.
Tentang keistimewaan hari lahir Nabi saw,
terdapat hadits shahih dari Abu Qatadah, seorang bertanya kepada Rasulullah saw:
"Bagaimana penjelasanmu tentang berpuasa di hari Senin?" Maka beliau saw menjawab: "Fiihi wulidtu wafiihi unzila alayya."
"Di hari itu aku dilahirkan dan di hari itu pula aku diturunkan wahyu Al Qur'an." (HR. Muslim, Abu Daud, dan Ahmad).
Mungkin anda bertanya, mengapa dalam perayaan maulid kita tidak berpuasa seperti yang dicontohkan oleh Rasul saw saja, tetapi malah makan-malam dan bergembira dengan membaca syair-syair pujian yang disertai alunan rebana dan lain-lain?
Jawabannya adalah, puasa merupakan salah satu cara terbaik untuk mengenang kelahiran Rasulullah saw. Dan puasa sendiri adalah ibadah murni yang akan mendapat pahala jika kita mengamalkannya secara ikhlas dan benar.
Tetapi yang menjadi tujuan dari puasa Rasulullah pada hari itu adalah untuk mengenang dan mensyukuri nikmat Allah yang telah diberikan kepada beliau saw.
Karena itu, tidak ada alasan untuk melarang manusia melakukan bentuk-bentuk peringatan kelahiran Nabi saw dengan cara lain, selama hal itu dibolehkan dalam agama dan tidak berbentuk maksiat.
Sedangkan yang terpenting dalam hal ini adalah niat dan tujuan dari perayaan itu, bukan medianya semata. Karena itu, kalau kita perhatikan maka akan kita temukan berbagai macam cara umat Islam dalam memperingati hari kelahiran Nabi saw sesuai dengan kondisi dan tradisi masing-masing.
Di antara mereka ada yang dengan cara menyantuni fakir miskin dan anak-anak yatim, berpuasa, melantukan syair-syair pujian kepada Nabi saw, dan bersedekah makanan kepada tetangga dan kerabatnya.
Di antara sekian cara ini, yang paling terkenal di Indonesia adalah mengadakan pembacaan kitab maulid dan pengajian dengan serangkaian acaranya. Inilah yang dilakukan sebagian umat Islam di seluruh pelosok dunia dari dahulu hingga sekarang.
Hal lain yang sering dipermasalahkan dan diungkit-ungkit adalah tentang lantunan syair pujian sebagai pelengkap acara maulid.
Seperti biasa, mereka mengatakan, itu adalah hal bid�ah yang wajib dihilangkan karena mengotori syariat Islam. Sebelum kita bahas lebih lanjut, marilah kita tengok sejarah para sahabat di masa Rasulullah saw masih hidup.
Kala itu, berita hijrahnya Rasulullah saw dari Mekkah ke Madinah telah tersebar luas. Para sahabat yang berada di Madinah tak kuasa menahan rasa rindu kepada Rasulullah saw.
Setiap hari mereka menanti Nabi saw di tapal batas kota Madinah, akhirnya, saat yang dinanti-nanti pun tiba.
Rasulullah saw bersama Abu Bakar ra memasuki kota madinah dengan selamat. Kegembiraan warga Madinah tak dapat dilukiskan dengan kata-kata, mereka menangis bahagia menyaksikan kekasih yang dirindukan telah berada di hadapan mata.
Dengan penuh cinta, wanita dan anak-anak pun menaati rebana dan melantunkan syair indah penuh makna yang abadi sepanjang masa. Dengan meriah mereka bersyair,
"Thala'al badru 'alainaa.. min tsaniy yatil wadaa'.. Wa jabasy syukru 'alainaa.. Maa da'aal lillahidaa'.."
(Telah terbit bulan purnama.. Menyinari kami dari Bukit Wada'.. Maka kita wajib bersyukur.. Karena tibanya sang da'i yang menyeru ke jalan Allah..).
Sepanjang hidupnya, Rasulullah saw tidak pernah melarang tabuhan rebana dan senandung syair yang dipersembahkan untuk menyambut kedatangannya itu.
Bahkan ketika Rasulullah saw tiba dari perang Tabuk, warga Madinah kembali menyambutnya dengan tabuhan rebana dan lantunan syair tersebut di atas. (Lihat Siratul Halabiyyah juz 3: 99, Zadul Ma'ad juz 1: 1297, Fathul Bari juz 8: 469).
Dalam hadist lain juga diriwayatkan, bahwa suatu ketika ada seorang bernama Ka�b bin Sughair bin Abi Salma, dia mencaci maki Rasulullah dengan mengatakan : Muhammad itu kalau malam hari berkumpul dengan para sahabatnya kemudian minum-minum arak dan setelah itu keluar ucapan-ucapan yang tidak karuan (Al Qur'an). Para sahabat Nabi marah setelah mendengar ada seorang yang telah berani mencaci maki dan memfitnah Rasulullah Saw, kemudian para sahabat menemui Rasulullah untuk memohon izin akan mencari orang yang telah mencaci maki Rasulullah. Sebelum para sahabat menemukannya, ka'b bin Sughair bin Abi Salma mendengar berita itu dan dia langsung ketakutan, kemudian dia menghampiri Rasulullah pada saat beliau sedang melaksanakan Shalat subuh sambil menutup mukanya dan berkata :
Wahai Muhammad, apakah kamu telah dicaci maki orang yang bernama ka'b bin Sughair dan apakah para sahabatmu sedang mencari orangnya ? Rasulullah saw menjawab "Benar". Bagaimana kalau dia datang kepadamu untuk minta maaf ? Rasulullah saw mengatakan "akan saya maafkan". Kemudian dia membuka tutup mukanya sambil mengatakan "sayalah ka'b bin Sughair orang yang yang telah mencaci maki kamu, silahkan akan kamu apakan. Rasulullah saw langsung mengatakan "Kamu saya maafkan.
Setelah dimaafkan oleh Rasulullah dia menunduk dengan meletakan kedua tanganya diatas paha Rasulullah Saw sambil melantunkan syair-syair yang isinya memuji-muji Rasulullah Saw, setelah ka�b bin Sughair bin Abi Salma selesai melantunkan Syair-syair pujian lalu Rasulullah Saw memberikan hadiah kepadanya berupa selimut lurik yang sedang beliau pakai.
Jadi, walau mungkin Rasulullah saw tidak pernah meminta / memerintah hal itu selama hidupnya, tetapi karena ketika beliau mengetahui hal itu tidak pernah melarangnya,
maka hukumnya menjadi Sunnah Taqririyah (Sunnah karena Rasulullah melihat atau mendengar sesuatu yang dikerjakan para sahabat atau orang lain, tetapi beliau tidak melarangnya).
Dengan demikian, maka jelaslah permasalahan seputar merayakan Maulid Nabi dengan melantunkan syair pujian untuk Baginda Nabi Muhammad saw yang sering kita dengar bahkan melakukannya adalah Sunnah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar